Postingan kali ini, tiba-tiba aku kepikiran untuk bercerita mengenai masa lalu. Kenangan waktu SMA…(halah..serasa nonton ‘Gita Cinta dari SMA’)
Sampai saat ini gak terlupa, wajar kalo banyak yang bilang “masa SMA adalah masa yang paling indah”. Ehem…Ehem…
Tersebutlah Cipluk (nama samaran), seorang cowok dari kampung yang pintar, rendah hati, tidak sombong, rajin menabung tapi gokil banget. Pertama aku mengenalnya, biasa saja…Kedua, tetap biasa saja…Ketiga, masih biasa saja…Kesimpulannya, tak ada yang luar biasa…
Cipluk merupakan murid yang selalu membuat kelas menjadi gaduh seketika oleh celetukannya ketika guru menerangkan. ( gimana gak gaduh, pas guru lagi nerangin, tiba-tiba Cipluk banting meja dan bangku di kelas).
Semester awal kelas 1, aku baru mengenalnya. Kami berkenalan ketika…
Hujan turun pulang sekolah, dia mendekatiku dan mengajak pulang bersama…
Kita sama-sama nyontek PR matematika punya temen di kelas pagi-pagi sekali. Kelas masih sepi dan saat itulah dia menanyakan namaku.
Waktu berjalan, dia mulai menanyakan nomer hpku. Mulai mengirimiku sms..mesra bertuliskan aku sayang kamu untuk ngutang sama aku.
Aku tak merasakan apa-apa ketika itu, namun beberapa teman baikku mengatakan bahwa Cipluk menyukaiku. Tapi aku menanggapinya hanya sepintas lalu.
Pas jam pelajaran kosong, selalu saja dia menghampiri bangkuku hanya untuk membuat aku kesal dengan tingkahnya yang memang menyebalkan. Ditambah lagi, teman sebangkuku (seolah kerjasama) langsung pergi ketika Cipluk datang menghampiri.
Gelagat dia menyukaiku baru terlihat ketika dia memberikan perhatian yang lebih padaku. Namun aku selalu ‘kura-kura dalam perahu’, yang berarti kesalahan orang lain mudah tampak, tapi kesalahan sendiri tidak tampak. (????)
Semester berikutnya kita pisah kelas. Aku yang memang lebih pintar dari dia, masuk kelas regular, sedangkan dia masuk kelas unggulan.
Dia terus berusaha menarik perhatianku, namun aku selalu saja cuek. Mungkin sudah sampai di batas kesabarannya, tiba-tiba dia tidak pernah menyapaku sama sekali. Ketika berpapasan di sekolah, kita bagai orang yang tidak pernah mengenal.
Sekolahku yang menetapkan perombakan kelas tiap semester, tak membuat kita satu kelas lagi. Hingga di penghujung sekolah, yaitu kelas 3 kita kembali satu kelas.
Aku agak canggung begitu pertama tau bahwa aku sekelas dengannya. Minggu-minggu awal, kita masih seperti orang tidak pernah saling kenal. Tapi beberapa waktu kemudian, dia duluan yang mendekati dan menyapaku…Aku mulai lega, karena kita sudah kembali seperti dulu, berteman baik.
Tapi siapa sangka, ternyata ini awal dari hal-hal yang unik, lucu, menyenangkan sekaligus memalukan!!!
Kalo pernah ngeliat di sinetron-sinetron remaja dimana si cowok ngikutin terus kemana si cewek…ngejar-ngejar dia…bertingkah ‘agak’ norak sampe semua orang pada tau..itulah yang Cipluk lakukan padaku.
Dia umumkan pada seluruh sekolah, mulai dari temen, adik kelas, sampe guru bahwa dia menyukai aku..Busyet…cowok kayak ginian ternyata beneran ada di dunia
Salah satunya yang masih aku ingat, pas pelajaran bahasa Inggris yang kebetulan diajari oleh guru baru.
“Disini ada dialog antara dua orang, ayo siapa yang mau bacakan?”katanya seperti bicara di depan anak esde.
Berhubung aku suka banget bahasa inggris, jadi aku putuskan untuk tidak angkat tangan alias diam saja.
Beberapa saat, tidak ada seorangpun yang bersedia membacakan. Namun kemudian, Cipluk mengangkat tangannya…
“Oke, kamu… Sekarang yang cewek sapa?”
Sesaat perasaanku tak enak.
Satu…
Dua…
Ti…
“Saya mau sama dia buk..”kata Cipluk lantang sambil menunjuk padaku.
Gelak tawa dan suara celetukan usil memenuhi seisi kelas yang tadinya hening itu.
Itu belum seberapa, masih banyak hal konyol yang dia lakukan.
Ketika aku lagi serius dengerin penjelasan guru sambil terkantuk-kantuk..seorang teman mencolekku
“Tuh..dipanggil Cipluk”
Namun ketika aku menoleh padanya, dia menatapku dengan genit, kemudian menggerakkan kedua tangannya membentuk hati, lalu meniupkan ke arahku…GDUBRAK. Adegan di pilem-pilem cinta jadul aja, lewaatt…Tobaaattt
Beberapa teman yang melihat, menahan senyum.
Sedangkan aku menahan malu.
Akhirnya dengan khayalan tingkat tinggi…aku raih hati yang ditiupnya tadi, kemudian aku buang dan kuinjak-injak sambil melet-melet kayak lagi step.
Melihat itu, beberapa temanku yang (mungkin) kasian pada nasib cinta Cipluk membentuk Tim Sukses. Dengan syarat, setiap mereka berhasil membantu Cipluk dekat denganku, Cipluk harus mentraktir jajan di sekolah.
Tapi dari semua kekonyolan itu, ada hal yang menguntungkan buatku. Dia yang memang termasuk golongan anak pintar, terkadang dimintai tolong teman-teman untuk mengajari beberapa pelajaran. Ketika yang lain berebut untuk diajari, dia justru ngotot mau ngajarin aku yang gak minta diajarin. (benernya mau bgt diajarin, tapi gengsi)
Banyak kejadian serupa yang ketika aku mengingatnya saat ini, malah membuatku tertawa sendiri. Tapi terkadang aku merasa, kenapa dulu aku ‘agak’ keterlaluan sama dia? Aku gak mempedulikan sama sekali perasaannya padaku.
Ketika dia datang kerumah…
Cipluk : “A..a..aaku..mau ngomong sesuatu”
Aku : “Perasaan dari tadi udah ngomong”
Cipluk : “ Emmm..mmm..bukan gitu. A..aa..ada yang lain yang maa…au aku o..o..mongin”
Aku : “Ya udah, ngomong aja. Pake ijin segala”
Cipluk : “ A..aa..aku suka kamu”
Aku : “Ooohh..gitu. Aku juga. Kalo aku benci kamu, gak mungkin lah kamu boleh ke rumahku.
Cipluk : “ Aku serius..”
Aku : “Aku juga serius..”
Sampai beberapa jam kita bergulat mengenai serius dan tidak serius, hingga akhirnya dia menyerah.
“Ya udah, aku pulang aja. Susah ngomong ma kamu”
Hehehe…Kalo dipikir-pikir aku mungkin keterlaluan. Tapi itu kan jaman dulu…sekarang kan udah beda (lebih keterlaluan).
Itulah cerita yang datang dari masa lalu. Cerita indah tapi konyol khas anak SMA yang gak pernah aku lupa